haiii gue balik lagi nuih, gue masih single dan berkualitas pastinya
kali ini gue mau ngepost hasil drama buatan gue waktu kelas 8 cekidipoooot
KEBAIKAN BERBUAH KEBAHAGIAAAN
1.
Tema :
Sosial
2.
Tokoh dan penokohan :
-Dwiana Yoga : yoga
(suka menolong ,baik)
-Rachmi
Herdini : Santi (pintar ,
baik , tidak mudah putus asa)
-Vidha
Kusuma :
ibu Santi (baik , penyayang , penyemangat)
-Aditya Indra : pak adit (baik hati,
pemerhati, penyayang)
-Ilham
Wahid : preman
(nakal,galak)
-Sofia
Fida : teman
yoga (baik, pintar, lucu)
-Maulita
Nur : teman yoga
(baik dan pintar)
3.
Alur / Plot :
Tahap perkenalan :
Alkisah ,
di suatu rumah ada seorang anak yang hanya tinggal bersama ibunya , yaitu santi
. Santi adalah anak yatim yang sudah kehilangan ayahnya sejak ia masih bayi .ia
bekerja sebagai pengamen jalanan . Ia berumur 12 tahun dan sudah seharusnya dia
sudah duduk di bangku SMP , namun ia putus sekolah sejak kelas 6 SD karena
ibunya tidak mampu membiayai . ibunyapun hanya seorang janda miskin yang tidak
mempunyai pekerjaan tetap. Santipun terpaksa mengamen untuk menambah
penghasilan keluarganya.
Tahap penampilan
masalah :
Saat
mengamen ia dimintai uang oleh penguasa jalanan di daerah sana, namun ada
seorang yang berbaik hati menolong dan membelanya, dia bernama yoga. Yoga
adalah anak laki-laki yang juga berprofesi sebagai pengamen yang tidak pernah
mengenyam pendidikan.
tahap klimaks :
Disitu santi mencoba
menolong yoga untuk belajar membaca, sehingga banyak teman-teman yoga yang
antusias dan ingin ikut belajar. Namun ilham yang dulu pernah memalak santi
melihat dan tidak menyetujui mereka belajar di tempat itu. Dan ilhampun berbuat
ulah, yaitu dia mencopet seorang kepala sekolah yang sering disapa pak adit.
Tahap antiklimaks :
namun
yoga berhasil menggagalkan rencananya dan mendapatkan kembali dompet pak adit.
Dan akhirnya ilham sadar dan tidak akan berbuat hal seperti itu lagi.
Tahap penyelesaian :
Karena
pak adit merasa iba dan dia merasa harus membantu permasalahan mereka, yaitu
membantu membiayai sekolah. Dan karena kebetulan beliau seorang kepala sekolah
maka niatnya itu dapat berjalan dengan mulus.
4. Latar / Setting :
-Latar
satu : di rumah santi
-latar
dua : di jalanan
-latar
tiga : di bawah pohon
-latar
empat : di sekolah
5.
Amanat / Nilai didik :
Janganlah engkau perhah berputus asa
dengan apa yang kamu miliki saat ini, dan percayalah kesabaran dengan didampingi
usaha akan mendapatkan suatu hasil.
6.
Skenario :
Alkisah , di suatu rumah ada seorang
anak yang hanya tinggal bersama ibunya , yaitu santi . Santi adalah anak yatim
yang sudah kehilangan ayahnya sejak ia masih bayi .ia bekerja sebagai pengamen
jalanan . Ia berumur 12 tahun dan sudah seharusnya dia sudah duduk di bangku
SMP , namun ia putus sekolah sejak kelas 6 SD karena ibunya tidak mampu
membiayai . ibunyapun hanya seorang janda miskin yang tidak mempunyai pekerjaan
tetap .
Latar satu : di kamar santi .
Santi : (sambil memandangi seragam
sekolahnya)
Ibu : “ nak mau sampai kapan kamu
melihatnya , walaupun dilihat sampai besok itu tidak ada gunanya .”
Santi :
“ kapan ya bu , santi bisa sekolah lagi ?”
Ibu : “ ibu yakin , suatu saat nanti
jika kita rajin berusaha dan giat berdoa kita pasti dapat mewujudkan apa yang kita inginkan .”
Santi : “ iya bu santi mengerti, santi
mau pergi ngamen dulu . Assalamualaikum .”
Ibu : “ wa’alaikum salam .”
Latar tempat : dijalan raya
Saat di jalan raya .
Saat itu cuaca panas, santi sudah
selesai ngamen . akhirnya dia istirahat sebentar di sebuah bangku. Tiba tiba
ada anak yang bertubuh besar menghampirinya .
Ilham : “ hey, kamu serahkan uang
mu!!!”
Santi: “ tidak mau !!!”
Ilham : “ oh sepertinya kamu anak baru
ya ? pantesan belum tau siapa aku .”
Santi : “ memangnya kamu siapa ?”
Ilham : “ hallah banyak nanya , cepat
serahkan uangmu , kalau tidakk ….(
sambil mengangkat tanganya yang ingin menampar santi)”
Yoga : “ stop !!! (sambil memegang
tangan bang bro ) hentikan !!
Santi : (menutupi wajahnya dengan
tanganya)
Ilham : “ yog , ternyata kamu membela
dia ya ?”
Yoga : “ maaf bang, dia nak baru wajar
kalau dia belum tau .”
Ilham: “ oke kali ini kamu aku bebaskan
, lain kali tidak ada ampun !!” (sambil meninggalkan yoga dan santi )
Yoga : “kamu tidak apa-apa kan ?”
Santi : “tidak , oh iya terimakasih ya,
karena telah menolongku, nama kamu siapa ?”
Yoga : “sama-sama, oh iya aku yoga ,
kamu?”
Santi : “aku santi , kamu sudah lama
ngamen disini?”
Yoga : “ya lumayan, untuk menambah
penghasilan orang tuaku.”
Santi : “oh begitu , aku juga , aku
ingin kembali sekolah.”
Yoga : “hah ? sekolah ? memangnya kamu
pernah sekolah?”
Santi : “pernah , sampai kelas 6 SD,
kamu?”
Yoga : “ah aku sudah lupa, kapan
terkahir aku sekolah, eh bagaimana kalau kita ngamen disana?”
Santi : “ayo , “ (sambil berjalan
bersama yoga untuk mengamen)
Tiba-tiba santi melihat tuisan yang
berbunyi “DILARANG NGAMEN DISINI”.
Santi : “yahh , pantesan disini gak
aman buat ngamen.”
Yoga : “kenapa ?”
Santi : “itu ada tulisan , itu .”
(sambil menunjuk tulisan itu)
Yoga : “mana dimana ? aku tidak
melihat.”
Santi : “itu disanaa.”
Yoga : “oh iya aku kan tidak bisa
membaca, hehehe”
Santi : “apa ? kamu tidak bisa
membaca?”
Yoga : “tidak, kenapa?”
Santi : “yaudah deh , besok aja. Besok
kita ketemu disini ya.”
Yoga : “ada apa sih ?”
Santi : “udah ya yog,
daaaaaaaaaaaaaaa.”
Santipun pergi meninggalkan yoga yang
masih bertanya Tanya, tentang apa yang ingin dilakukan santi besok.
Keesokan harinya. Saat santi ingin
pergi mengamen ia sempat berbincang-bincang dengan ibunya.
Latar tempat : di rumah santi
Santi : (sibuk mencari gulungan kertas
yang ia inginkan)
Ibu santi : “sedang mencari apa nak ?”
Santi : “aku sedang mencari gulungan
kertas yang isinya alphabet bu.”
Ibu santi :”untuk apa san ?”
Santi : “untuk mengajari temanku
menbaca bu.”
Ibu santi :”baguslah nak , kamu bisa
membantu sesama dengan cara yang kamu bisa.”
Santi : “iya bu, aku senang berbuat
kebaikan. Oh iya, ini bu sudah ketemu (sambil mengacungkan gulungan itu)”
Ibu santi :”yasudah, cepat berangkat,
nanti kesiangan.”
Santi :”iya bu.”
Ibu santi :”hati-hati ya.”
Santi : “terimakasih bu, santi pergi
dulu. Wassalamualaikum.”
Ibu santi : “wa’alaikumsalam”
Latar tempat : di jalan raya
Santipun bergegas pergi untuk cepat
menemui yoga.
Santi :”hai, yog ! sudah lama menunggu
?”
Yoga : “hai, belum kok.”
Santi :”oh iya, siap belajar?”
Yoga : “belajar membaca ya? Kalo itu
mah siaapp !”
Santi :”oke, kita duduk di bawah pohon
itu aja.”
Yoga : “oh iya, ada temantemanku yg
ingin ikut juga.”
Santi :”wah bagus itu, semakin banyak
yg ikut semakin baik.”
Yoga : “oke, (yogapun bertepuk tangan
untuk memanggil sinta dan lita) perkenalkan ini sinta dan ini lita”
Sinta dan lita : “hai.”
Sinta : “hehehehehe ayo kita mulai
belajar!”
Lita : “semangat sekali kmu sin.”
Sinta :”ya jelas, aku kan ingin cepat
bisa membaca tulisan yang ada dibawah televisi itu.”
Lita: “memangnya kamu punya tivi?”
Sinta : “tidak.hehehehe”
Yoga : “ayo san, daripada kita
mendengar obrolan sepasang orang gila,mending kita mulai saja.”
Santi : “okelah. Ayo duduk semua yaa.”
Mereka semuapun duduk dibawah pohon
yang rindang, untuk memulai belajar membaca.
Mereka semua tampak antusias untuk
memperhatikan, namun ternyata ada seseorang yang mengintai mereka, yaitu ilham.
Santi : “ilham, sedang apa kamu disitu
?”
Ilham : “hah ? gak sedang apaapa.
Kalian lagi ngapain?”
Santi :”kami sedang belajar membaca.”
Sinta : “ooo kamu gak bisa liatt ya
kita lagi ngapaiin? Udah jelas juga!”
Ilham : “kalian itu harusnya kerja,
bukan belajar, kalo mau belajar sana di sekolahan !”
Santi :”maaf ya, kami gak ada urusan
sama kamu, dan ini tempat umum kamu gak boleh larang kita seenaknya!”
Ilham :”oh gitu, oke! Silahkan!
Ilham dengan kesalnya pergi
meninggalkan mereka.
Setelah selesai belajar merekapun
kembali mengamen dan tiba-tiba yoga melihat ilham yg sedang mencoba merogoh
saku seorang bapak-bapak. Yogapun menghampiri mereka.
Yoga : “selamat siang pak, bolehkah
saya ngamen? Oh iya pak , hatihati di belakang bapak.”
Pak adit : (sambil menengok kebelakang
yang ternyata ilham sedang mencoba mengambil dompetnya sambil nyengir) “nak,
kamu sedang apa?”
Ilham : “tidak sedang apa-apa pak, “
pak adit : “sudahlah jujur saja. Saya
tidak akan melaporkanmu kepada pihak keamanan.”
Ilham : (malah lari tanpa mengeluarkan
sepatah katapun)
Pak adit : “terimakasih ya nak, ini
untukmu (sambil menyerahkan uang kepada yoga)
Yoga : “maaf pak, saya ikhlas
menolong,”
Pak adit : “nama kamu siapa ? jam
segini kamu kok disini, kamu tidak sekolah?”
Yoga : “nama saya yoga pak, saya tidak
sekolah karena kekurangan biaya.”
Pak adit : “sungguh malang nasibmu nak,
kamu mau bersekolah lagi?oh iya perkenalkan saya pak adit, saya kepala sekolah
SMP tunas jaya”
Yoga : “mau pak,ohh senang bertemu
dengan bapakk”
Pak adit : “ya sudah ayo ikut saya,”
Yoga : “maaf pak saya juga mempunyai
beberapa teman yang tidak bersekolah, apakah saya boleh mengajaknya?”
Pak adit : “tentu saja boleh, dapatkah
kamu mempertemukan bapak dengan teman-teman itu nak?”
Yoga : “tentu bisa pak, mari” ( sambil
menunjukkan arah)
Akhirnya merekapun bertemu dengan
santi, sinta, dan lita.
Santi : “hai yog, siapa itu?”
Yoga : “itu adalah pak adit, dia
berprofesi sebagai kepala sekolah. Dan dialah yang ingin menyolahkan kita.”
Sinta : “hah ? apa benar?”
Pak adit : “tentu saja benar. Oh iya
perkenalkan saya pak adit (sambil bersalaman dengan ketiga anak itu)
Santi : “benarkah bapak ingin
menyekolahkan kami?”
Pak adit : “benar.bolehkan saya bertemu
dengan orang tua kalian?”
lita: “maaf pak bolehkah orang tua kami
diwalikan oleh orang tua santi ?”
Pak adit : “boleh. Dapatkah saya
bertemu dengannnya?”
Santi : “boleh pak, mari.”
Merekapun bergegas pergi kerumah santi
untuk menemui ibu santi.
Latar tempat : dirumah santi
Santi : “assalamualaikum.”
Ibu santi : “wa’alaikum salam. Masuk
nak,”
Santi : “bu, aku membawa
teman’temanku.”
Ibu santi : (sambil keluar untuk menuju
ruang tamu) “oh, siapa ini nak ?”
Santi : “ini yoga, sinta, dan lita. Dan
bapak-bapak yang ini adalah pak adit, beliaulah yang akan menyekolahkan kami
bu.”
Ibu santi : (sambil bersalaman dengan
mereka) “apa? Menyekolahkan?”
Pak adit : “iya bu, kebetulan saya
adalah kepala sekolah. Dan saya merasa simpatik dengan mereka sebagai penerus
bangsa.”
Ibu santi : “baiklah pak, saya sangat
setuju saya titipkan anak-anak saya kepada bapak.”
Pak adit : “baik bu.”
1 bulan kemudian mereka telah
bersekolah dan akhirnya berkumpul di pinggir jalan tempat biasa ngamen untuk
mengenang masa lalu, dengan gagahnya mereka menggunakan seragam SMP. Dan
tiba-tiba mereka bertemu dengan ilham.
Yoga : “ilham !”
Ilham : “yoga? Sudah sekolah kamu
sekarang?”
Sinta : “iyalah, kami sudah sekolah .
bagaimana dengan kamu?”
Ilham : “sama seperti dulu.”
Santi : “bagaimana kalo kamu ikut
bersekolah dengan kami?”
Ilham : “hah? Apakah bisa?”
Yoga: “pasti bisa.”
Ilham: “terimakasih ya, kalian memang
baik.”
Lita: “yaiyalahh !”
Merekapun akhirnya mengusahakan agar
ilham dapat bersekolah, dan akhirnya ilham dapat bersekolah.
Latar : di sekolah.
Yoga : “yeiyyy akhirnya kita bisa
bersekolah!”
Sinta : “alhamdulillah yaa, sesuatuu
bangettt ..”
Merekapun bersorak ‘yeeeee’
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar